RUMAH GADANG TANPA RANGKIANG

Oleh: Nofri Duino Zora, mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas
Andalas.

Minangkabau sangat terkenal dengan Rumah Gadangnya, Rumah Gadang dibangun secara bersama-sama. memiliki bentuk yang unik dan setiap ukirannya mengandung makna filosfisnya. Rumah Gadang merupakan tempat tinggal bagi masyarakat di Minangkabau.

Rumah Gadang merupakan hasil kebudayaan suatu suku bangsa yang ada di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera Tengah. Yang dibangun diatas tiang, mempunyai kolong yang tinggi. Arsitekturnya yang khas yang membedakan dengan suku bangsa lainnya (Navis, 1984).

Pada saat ini kita bisa menikmati keindahan Rumah Gadang dengan keunikan dan juga jumlahnya yang tidak sedikit. Tetapi tidak sedikit pula rintihan yang terjadi saat ini, jika dilihat dari kondisi Rumah Gadang saat ini. Hal kecil yangsering dilupakan adalah keberadaan Rangkiang. Sangat sulit ditemukan Rangkiang pada Rumah Gadang yang dihuni maupun tidak dihuni, kecuali pada Rumah Gadang yang memang menjadi sebuah objek wisata saja. Padahal Rangkiang ini seperti sebuah bank bagi masyarakat Minangkabau dahulunya, karena Rangkiang sebagai tempat menyimpan padi sebagai persiapan untuk kedepannya. Namun sekarang dengan perkembangan zaman yang ada. Lambat laun keberadaan Rangkiang sangat memprihatinkan.

Sangat banyak ditemukan bahwa Rumah Gadang sudah tidak mempunyai Rangkiang lagi. Setiap kaum suku di Minangkabau pasti mempunyai Rumah Gadangnya. Jika ingin melihat bagaimana keadaan kaum suku dan kekompakanya. Maka lihatkah dari kondisi Rumah Gadangnya. Apabila Rumah Gadangnya terawat dengan baik, berarti kaum suku tersebut kompak. Namun apabila Rumah Gadangnya terbengkalai dan tidak terurus, berarti kaum suku tersebut terpecah belah. Stagtement itu diperkuat oleh; apabila kaum sukunya bersatu, Maka kaum suku tersebut tidak akan membiarkan Rumah Gadangnya terbengkalai.

Kondisi Rumah Gadang sangat memprihatinkan. Perlunya perhatian lebih
dalam menjaga Rumah Gadang agar bisa dinikmati oleh anak cucu kedepan. Betapa banyak Rumah Gadang yang sudah direnovasi, namun tidak sedikit yang sudah seharusnya diperbaiki. Bukan hanya kelompok kaum saja yang bertanggung jawab dalam hal ini, namun seluruh masyarakat Minangkabau serta peran pemerintah untuk lebih diperhatikan kembali kondisi riil Rumah Gadang. Jangan hanya menjadikan sebuah nama objek wisata yang selalu dibanggakan tanpa memerhatikan kondisinya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki peradaban dan aktif dalam memajukan masyarakat duia. Bukan dari masyarakat yang buta akan aksara, namun yang terpenting adalah bagaimana suatu bangsa memiliki kecakapan hidup dan bisa bersaing dengan yang lain untuk mencapai kesejahteraan (Effendy, 2017:6). Sebagai intelektual muda seharusnya berperan aktif dalam memajukan budaya. Dengan mempelajari seluk beluk Rangkiang, setidaknya sudah berusaha dalam mempertahankan eksistensinya. Sehubungan dengan itu, banyaknya kaum muda yang ikut prihatin dengan kondisi Rumah Gadang dan keberadaan Rangkiang, tentunya harapan sangat tertopang kepada seluruh lapisan masyarakat serta peran pemerintah dalam mendukung hal tersebut. Salah satunya dengan memperhatikan kondisi Rangkiang yang ada, agar tidak punah dimakan usia, sebagai sumber ilmu pengetahuan tentang budaya serta mempertahakan kearifan lokal yang ada sehingga tidak dibuyarkan oleh kebudayaan lain.

Pengetahuan tentang Rangkiang saat ini sangatlah miris, kebanyakan kaum muda lebih mengetaui budaya asing dari pada budaya sendiri. Memang perkembangan zaman yang begitu pesat, kita tidak akan bisa terlepas dan menghindar dari kebudayaan asing masuk. Namun, itu jangan sampai menghilangkan identitas kita sebagai intelektual Minang. Melihat dari fungsi Rangkiang pada saat ini, sudah tidak dimaksimalkan, karena masyarakat lebih suka menggunakan teknologi modern pada saat ini.

Memajukan budaya sendiri dan mempertahankannya adalah bagian dari tolak ukur sebagai intelektual muda Minangkabau. Jika tidak memulai dari diri sendiri yang mencintai kebudayaan sendiri, lantas siapa lagi. Jangan sampai sudah di klaim oleh orang lain, baru bergerak memperjuangkan budayanya. Memajukan budaya pada saat sekarang lebih efisien, dengan memamfaatkan teknologi yang ada, apalagi seseorang yang sudah berkecimpung didalamnya, ini adalah langkah kongkrit dalam melestarikan budaya.

Lunturnya budaya sendiri oleh masuknya budaya lain itu sesuatu yang bisa
dicegah. Bagaimanapun banyaknya budaya lain masuk ke negeri ini, jika
penghuninya tetap teguh dengan budaya sendiri dan tidak mengikuti alur budaya lain. Maka tidak akan luntur budaya sendiri, karena yang menentukan bukanlah banyak jenis budaya asing yang merambat ke Minangkabau, tetapi bagaimana mayarakat Minangkabau dalam menghadapi hal tesebut.

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia,
sebagai kaum suku bangsa yang memiliki identitas yang diakui oleh negara, maka seharusnya dijaga dan dilestarikan, supaya tidak luntur dan hilang yang disebabkan oleh berbagai faktor. Kemajuan peradaban budaya tertopang banyak kepada kaum Intelektual muda, dengan semangat dan tujuannya mampu menjawab tantangan dunia. Selektif dalam menghadapi budaya asing yang masuk, tentunya dengan dukungan masyarakat serta peran dari pemerintah, suapaya seluruh haraon dan tujuan tercapai dengan baik

Tentang Arman Syahrizal

Harap cek kembali

Akankah Tindakan Rasisme Menjadi Suatu Keharusan?

Oleh: Yuli Wahyana, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Rasisme merupakan suatu sikap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *