Nofri Duino Zora, mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Regulasi Tidak Pasti, Menambah Pesanan Peti Mati

Oleh: Nofri Duino Zora, mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.


Lingkungan adalah aspek penting dalam sebuah kehidupan, adat dan budaya yang dianut, mampu mengatur laju tatanan kehidupan masyarakatnya. Tidak hanya itu dalam kelompok masyarakat mempunyai sifat komunal untuk menjunjung tinggi kepentingan bersama dalam memutuskan sebuah perkara.

Adat dan agama di kelompok masayarakat tersebut sangat berpengaruh besar dalam mengatur tatanan kehidupan, termasuk juga dengan menghadapi situasi saat ini, yaitu wabah COVID-19 yang menyerang Indonesia, bahkan diseluruh penjuru dunia.


Corona Virus Disease (COVID-19) sangat meresahkan masyarakat dunia selama dua bulan terakhir ini. Wabah ini disebabkan oleh Novel Coronavirus (SARS-Cov-2) (World Health Organization, 2020a). Sebelumnya penyakit jenis ini sama sekali belum pernah terdeteksi dalam dunia medis. Wabah ini memang pertama kali dilaporkan mewabah di Wuhan, China.

Virus ini berkembang dengan cepat menginfeksi manusia melalui sistem pernafasan. Per April 2020, sekitar 1.8 juta jiwa terinfeksi oleh virus ini dan sekitar ratusan ribu jiwa tersebut tidak mampu bertahan terhadap virus tersebut atau mengalami kematian di sekitar 213 negara di dunia (World Health Organization, 2020b).


Meskipun sedang dilanda wabah, tentunya mau tidak mau, siap tidak siap, semua orang harus menghadapinya. Hidup berdampingan dengan wabah, tentu tidaklah mudah. Dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, setidaknya kita bisa memperkecil angka dari terkonfirmasi COVID-19 ini.


Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi permasalah terbesar yang sedang terjadi. Untuk mengatur hal tersebut pemerintah telah dengan tegas mengeluarkan berbagai kebijakan di segala bidang (Suharyanto, 2020). Di bidang kesehatan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di bidang pendidikan kementerian pendidikan telah mengeluarkan surat edaran mengenai pembelajaran 273 dari rumah (Learning from Home) (Sekretaris Kabinet, 2020).

Semua ini tidak akan terlaksana jika tidak ada kesadaran dari masyarakat. Peran dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam mendukung usaha pemerintah memutus rantai penyebaran COVID-19 ini. Sebenarnya apabila masyarakat memamfaatkan kondisi yang ada, dengan tidak melihat bahwa wabah ini sebagai pengahalang untuk beraktifitas, maka ini adalah peluang besar untuk mengoptimalkan pemamfaatan digital. Dengan menggunakan teknologi yang ada maka dengan sendirinya lapisan masyarakat bisa hidup berdampingan dengan wabah yang sedang melanda ini.

Namun sebaliknya jika masyarakat memandang ini adalah penghambat terbesar dalam hidup. Maka sebelum dirinya terjangkit virus, penyakit yang paling mudah menyerangnya adalah rasa cemas, takut dan rasa tidak percaya diri. Karena semua dianggap tidak bisa, lantaran dihalangi oleh wabah ini.


Pengaruh masyarakat yang sangat fanatik dengan budaya dan kepercayaannya, adalah faktor penghambat dalam mensukseskan kebijakan yang diberikan oleh pemerintah. Masyarakat hidup berdampingan dengan COVID-19 ini, harus membiasakan kebiasaan baru yang di anjurkan pemerintah. Dalam hal ini tidak sedikit yang mengabaikan himbauan tersebut, dikarenakan faktor lingkungan sosial, ekonomi dan yang paling besar adalah tidak adanya kesadaran dalam diri.


Untuk menanamkan kesadaran diri, keluarga sangat berpengaruh besar dalam hal ini. Contoh yang baik dan ketegasan seorang kepala keluarga dalam mematuhi protokol kesehaan berimbas baik terhadap anggota keluarganya.


Selain dengan membuat kebijakan, upaya pemutusan mata rantai penyebaran COVID-19 memerlukan pemahaman dan pengetahuan yang baik dari seluruh elemen termasuk masyarakat. Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa ingin tahu melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan juga merupakan domain terpenting dalam terbentuknya perilaku (Donsu, 2017). Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tingkat pendidikan, pekerjaan, umur, lingkungan dan social budaya. Dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang COVID-19 tentunya masyakat akan lebih berhati-hati dan siap

hidup berdampingan dengan wabah ini. Kurangnya pengetahuan masyarakat, ditambah dengan isu-isu yang tidak benar dari pihak yang tidak bertanggung jawab membuat terhambatnya sebuah kebijakan yang diberikan oleh pemerintah.


Lingkungan sangat berpengaruh besar dalam perkembangan dan tatanan hidup seseorang, dalam kelompok masyarakat perdesaan, adat dan agama merupakan indikator penting mengahadapi tatanan kehidupan baru. Pada saat negeri ini diserang wabah penyakit yang luar biasa, tentunya jalan yang harus ditempuh bagi masyarakat adalah menghadapinya.

Baca juga : Ketimpangan Penegakan Hukum

Diperlukan kesadaran diri dan usaha yang besar dalam kondisi saat sekarang ini. Pada kasus pandemi COVID-19 di Indonesia, pengetahuan masyarakat tentang COVID-19 sangat diperlukan sebagai dasar masyarakat dalam menunjukan perilaku pencegahan COVID-19. Seseorang yang telah mengetahui tentang suatu informasi tertentu, maka dia akan mampu menentukan dan mengambil keputusan bagaiman dia harus menghadapinya.

Dengan kata lain, saat seseorang mempunyai informasi tentang COVID-19, maka ia akan mampu untuk menentukan bagaimana dirinya harus berperilaku terhadap COVID-19 tersebut (Ahmadi, 2013). Dengan itu kita berharap bahwa, sinergi pemerintah dalam memutus rantai penyebaran COVID-19 tercapai dengan baik dan masyarakat hidup berdampingan dengan wabah ini, tanpa terjangkit penyakit apapun. (*)

Tentang Dean Adhitama

Harap cek kembali

Foto Ervin Hasibuan

Sebagai Politisi Lawas, Akhyar Nasution Bukan Lawan yang Gampang

Oleh: Ervin Hasibuan Suaraindo.com – Akhyar Nasution bukan lawan yang gampang bagi Bobby Nasution. Akhyar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *