Menu

Mode Gelap
Xi Jinping: Pengangguran Pemuda Harus Jadi Prioritas Nasional Viktor Orban Kunjungi Moskow, UE Tanggapi dengan Boikot TikTok dan ByteDance Ajukan Tuntutan untuk Batalkan Aturan Penjualan oleh Pemerintah AS Trump Selamat, Pelaku dan Seorang Peserta Kampanye Tewas Trump Ditembak saat Kampanye di Pennsylvania

Ekonomi · 20 Jun 2024 15:27 WIB ·

Pelemahan Rupiah Masih Berlanjut, Pelaku Usaha Mulai Resah


 Pelemahan Rupiah Masih Berlanjut, Pelaku Usaha Mulai Resah Perbesar

Suaraindo.com – Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, potensi pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih terbuka hari ini karena pelaku pasar masih terpengaruh dengan sikap The Fed yang tidak lekas memangkas suku bunga.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah di atas level 16.400 pada perdagangan di pasar spot, Kamis (20/6/2024). Melansir data Bloomberg, pukul 10.50 WIB rupiah berada pada level Rp 16.420 per dollar AS, melemah 0,34 persen dibanding penutupan sebelumnya pada Rp 16.364 per dollar AS.

Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi mengatakan, para pelaku usaha, khususnya yang melakukan aktivitas impor merasa sangat terbebani dengan kondisi ini.

Atas kondisi ini, para pelaku usaha menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Pertama, menunda transaksi yang menggunakan mata uang dolar AS. Apabila mata uang negara pengeksport tidak naik, biasanya pihaknya akan menggunakan pola Local Currency Settlemen (LCS), yaitu membayar dengan menggunakan mata uang lokal seperti yuan atau renminbi. Hal ini berarti mengurangi volume import dan berdampak pada berkurangnya produksi.

Kedua, pelaku usaha akan menaikkan harga jual produk. Namun hal ini beresiko memperburuk kondisi apabila daya beli masyarakat sedang turun. Kemudian yang ketiga, mengurangi ukuran maupun takaran.

Adanya penguatan nilai dolar juga dirasakan oleh eksportir. Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mengatakan, para pelaku usaha mulai merasakan dampaknya terhadap operasional perusahaan. Hal ini dikarenakan sebagian besar komponen termasuk impor alat berat.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pasar Kripto Tertekan Jual Besar-Besaran Jerman, Bitcoin dan Ethereum Melemah

12 July 2024 - 15:07 WIB

Indonesia Siap Luncurkan BBM Rendah Sulfur untuk Kurangi Polusi Udara

12 July 2024 - 15:00 WIB

Putus Generasi Sandwich, Ini Program OJK

8 July 2024 - 20:14 WIB

OJK Hadapi Tantangan Identifikasi Rekening Judi Online dengan Transaksi Kecil

8 July 2024 - 20:11 WIB

Smelter Nikel PT KFI di Kalimantan Timur Siap Serap 10 Ribu Tenaga Kerja Lokal

8 July 2024 - 20:08 WIB

Strategi Sri Mulyani Kurangi Defisit APBN 2024 dengan Penggunaan SAL Rp 100 Triliun

8 July 2024 - 20:04 WIB

Trending di Ekonomi