ORIENTASI PUBLIK TERHADAP INFORMASI

Oleh: Nofri Duino Zora, mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas

Saat ini media sosial merupakan media komunikasi yang efektif, transparasi dan efisien serta memiliki peran penting sebagai agen perubahan dan pembaharuan. Penggunaan media sosial sebagai jembatan untuk membantu proses peralihan masyarakat yang tradisional ke masyarakat yang modern, khususnya untuk mentransfer informasi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah kepada masyarakatnya. Sebaliknya masyarakat dapat menyampaikan informasi langsung kepada pemerintah tentang berbagai hal terkait dengan pelayanan yang diterima. Menurut Taprial dan Kanwar (2012), media sosial adalah media yang digunakan oleh individu agar menjadi sosial, secara daring dengan cara berbagi isi, berita, foto dan lain-lain dengan orang lain. Dari definisi tersebut jelas bahwa masyarakat dapat berbagi informasi dan sebaliknya kepada pemerintah. Namun informasi tersebut bisa berubah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dengan sengaja membuat situs informasi yang salah atau tidak benar yang akan menguntungkan baginya, baik itu pada segi politik ekonomi dan lain-lain. Informasi yang tidak benar itu saat ini disebut dengan Hoax

Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. Definisi lain menyatakan hoax adalah suatu tipuan yang digunakan untuk mempercayai sesuatu yang salah dan seringkali tidak masuk akal yang melalui media online (https://www.merriamwebster.com). Hoax sendiri bertujuan untuk mempengaruhi pembaca dengan informasi palsu sehingga pembaca mengambil tindakan sesuai dengan isi hoax. Sebagai pesan informasi palsu dan menyesatkan, hoax juga dapat menakut-nakuti orang yang menerimanya.

Seharusnya masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi, mana yang benar dan mana yang salah. Dengan menelusuri sumber informasi itu, setidaknya bisa melindungi diri sendiri dan orang di lingkungan sekitar. Seperti hal nya kondisi negeri ini di serang pandemi Covid-19. Ekspektasi dengan realitas yang terjadi ternyata berbanding terbalik dengan harapan yang telah direncanakan, langkah-langkah tersebut tidak disikapi degan baik oleh masyarakat, sehingga jumlah kasus terus meningkat. Disamping itu pelayanan kesehatan di Indonesia dan SDM kesehatan yang ada dalam menangani kasus pandemi Covid-19 ini juga belum memadai sedangkan kasus terus melonjak naik. Meningkatnya angka kasus postif terpapar virus ini tidak dipungkiri juga diakibatkan oleh masyarkat yang tidak percaya terhadap kehadiran virus ini, dan mereka beranggapan bahwa ini semua hanya konspirasi semata. Karena maraknya pemberitaan palsu atau Hoax mengenai pandemi telah berhasil membuat masyarakat resah, dan menurunkan tingkat kepercayaan kepada pemerintahan. Beragam informasi palsu yang tersebar pada masa pandemi sempat membaut kalangan masyarakat resah dan tidak mempercayai adanya virus ini. Ini disebabkan karena salah menerima informasi an disebarluaskan kepada lingkungan sekitar, Menimbulkan efek yang sangat besar.

Tingginya angka penyebaran hoaxtersebut, badan keamanan negara telah menjalankan berbagai upaya untuk menanggulangi kejahatan di bidang teknologi informasi. Dalam upaya penanggulan tindak pidana teknologi informasi, Kepolisian telah bekerjasama dengan unit khusus di Badan Reserse Kriniminal (Bereskrim) Mabes Polri yaitu Kriminalitas (Bareskrim) Mabes Polri yaitu DIrektorat II Ekonomi dan Khusus Unit VIT dan penanggulangan cyber crime dibeberapa Kepolisian Daerah (Polda). Polisi akan memberikan pelayanan yang terbaik guna mengupas tuntas permasalahan dalam bidang teknologi informasi. (Hanik Chumaroh, 2020: 28). Upaya yang dilakukan dalam mengurangi penyebar hoaxs ini tidak juga mampu sepenuhnya memberantas hoaxs, nyatanya masih ditemukan hoaxs yang sangat beragam.

Hoax bertujuan untuk membuat opini publik, menggiring opini publik, membentuk persepsi. Ada juga yang hanya sekedar bermain-main untuk menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna internet dan media sosial. Pada kenyartaannya orang lebih percaya berita-berita hoax situ, apalagi sesuai dengan opini kenyataan yang ada, tanpa menelusuri lebih lanjut asal serta media yang memberiitakan siu tersebut. Karena Semakin mudahnya fasilitas untuk mengakses internet membuat perkembangan media sosial sangat pesat bahkan banyak orang yang memanfaatkan media yang satu ini untuk keperluan pribadi, bisnis dan penyebaran informasi Hoax. Merujuk pendapat yang dikemukan oleh Buente dan Robbin (2008), dimana mereka melakukan studi atau investigasi tentang tren aktivitas-aktivitas informasi internet warga Amerika antara Maret 2000 hingga November 2004. Hasil riset tersebut ada empat dimensi kepentingan penggunaan internet yaitu informasi (information utility), kesenangan (leisure/fun activities), komunikasi (communication), dan transaksi (transaction). Hasil ini dapat menggambarkan bahwa aktivitas pengguna media sosial di lingkungan civitas akademik Universitas Presiden meliputi empat dimensi sesuai dengan hasil temuan Buente dan Robbin (2008). Dari paparan tersebut dapat diasumsikan, bahwa pengguna internet dapat dengan mudah memberikan dan menerima informasi. Ini tidak salah sebenarnya jika digunakan dengan baik dan semestinya.

Cara menanggulangi hoax, selain adanya undang-undang yang mengatur dari pemerintah. Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kantornya, Kamis (9/2/2017) hoax bisa ditanggulangi dengaan istilah “swasensor” Swasensor adalah bagian dari literasi media di mana pengguna media sosial alias netizen harus selektif memilah mana informasi yang bohong dan yang benar. Swasensor diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menangkal fenomena berita bohong alias ‘hoax’ di media sosial. Ia mengatakan, netizen seharusnya memiliki filter untuk tidak langsung percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial. (dikutip dari kompas.com). Cara lain yang bisa dilakukan dalam menanggulanginya dengan meningkatkan pemahaman literasi bagi guneasi. Dengan pengetahun yang baik, bisa menanggulangi berita atau informasi yang tidak benar.

Sebagai kaum milenial seharusnya memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang diterima. Perilaku pengguna sosial media memiliki perasaaan emosional ketika memperoleh kabar buruk atau kabar tragedi seseorang dan merasa punya tanggung jawab moral untuk berbagi. Saat itu tidak lagi mempedulikan apakah itu hoax atau tidak. Di media sosial, setiap merasa punya beban untuk berbagi penderitaan agar bisa menjadi pelajaran bagi pengguna lain ataupun ingin melepaskan beban agar merasa lebih baik. Pengguna menginginkan komentar ataupun like dan seringkali dibagikan tanpa ada verifikasi terlebih dahulu. Kesalahan kecil yang dilakukan oleh seseorang, akan berakibat besar. Jika membagikan hal tersebut ke kalayak ramai. Ini yang menjadi pendukung tersebasrnya informasi yang tidak benar. Tanpa sadar seseorang yang menerima informasi dengan mudah menyebarluaskan informasi tersebut. Miris memang jika seorang yang terpelajar melakukan hal tersebut, tanpa menggunakan ilmu yang didapat dalam melakukannya.

Dengan berkembang pesatnya media sosial dan jumlah pemakaianya cukup meningkat. Penyebaran berita atau informasi yang tidak benar sangat tinggi. Maka bagi seorang mahasiswa jangan langsung mempercayai segala informasi yang masuk tanpa menimbang informasi itu benar atau salah. Karena jika tidak mencari kebenaran dan relavansinya, akan berpengaruh besar terhadap lingkungan sekitar. Pasalnya yang sudah lanjut usia, apalagi yang di dominasi dengan kurangnya tingkat pengetahuan, maka akan langsung percaya terhadap berita atau informasi yang masuk sekalipun informasi itu tidak benar. Apalagi sudah ditambah kuat dengan percayanya kaum terpelajar pada informasi tersebut. Serta dengan adanya fakta dan realita serta kondisi pada saat itu.

Kaum muda harus berhati-hati dan mencari kebenaran terhadap setiap informasi yang beredar, jangan terbawa arus terhadap informasi yang tidak benar itu. karena itu sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar. Sebagai mahasiswa sebaiknya selektif dalam menerima informasi dan tidak menyebarluaskannya terhadap informasi yang tidak benar itu. Supaya tidak salah persepsi serta keleliruan terhadap lingkungan.

Baca juga

Tentang Arya Pratama

Harap cek kembali

Foto Ervin Hasibuan

Sebagai Politisi Lawas, Akhyar Nasution Bukan Lawan yang Gampang

Oleh: Ervin Hasibuan Suaraindo.com – Akhyar Nasution bukan lawan yang gampang bagi Bobby Nasution. Akhyar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *