Akankah Tindakan Rasisme Menjadi Suatu Keharusan?

Oleh: Yuli Wahyana, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Rasisme merupakan suatu sikap yang menyatakan bahwa perbedaan ras pada manusia adalah suatu bentuk sikap yang baik, sehingga dapat menentukan pencapaian budaya, dan dapat menentukan bahwa suatu ras tertentu lebih superior. Sikap rasisme ini memang sangat kejam, kenapa demikian, karena adanya sikap perbedaan perlakuan terhadap seseorang yang dianggap berbeda, dengan memberikan penilian berdasarkan sesuatu yang tampak, seperti fisik, agama, ras, sosial, dan bahkan secara biologis pun dihakimi. Tentu hal ini sangat banyak sekali kita jumpai pada masa saat sekarang ini, apakah itu yang bersangkutan dengan agama, ataukah yang berhungan dengan anak remaja-remaja. 

Kata rasisme memang sudah sangat lazim dibicarakan dikalangan masyakarakat, hal itu tidak hanya terjadi pada masyarakat Indonesia saja, namun hampir diseluruh penjuru dunia rasisme telah lama menjadi tranding topik di kalangan masyarakat. Rasisme terjadi bukan baru-baru ini, tetapi sejak ratusan tahun belakangan rasisme ini telah terjadi. Seperti masyarakat pedalaman di India sampai saat ini masih menerapkan ajaran seperti kesetaraan kelas dan ras. Semisal seorang perempuan yang sudah meninggal suaminya (janda) maka tata cara pakaiannya akan berbeda dengan perempuan yang masih mempunyai suami dan bahkan diasingkan tempat tinggalnya. Hal ini telah menjadi tardisi bahkan kebudayaan bagi masyarakat India, namun sejak tahun 1829 tradisi ini sudah dihapuskan karena dianggap membeda-membedakan sutau perbedaan yang dialami orang lain dan memberikan intimidasi terhadap perempuan. Di dalam masyarakat pedalaman India tradisi ini masih saja berkembang. Ini adalah sebuah tradisi yang dianggap mengandung sikap rasis terhadap orang lain, karena adanya perbeedaan perlakuan dan adanya pengelompokan antara satu sama lain.

Tidak hanya itu rasisme terhadap Muslim di India juga pernah terjadi, terutama semenjak adanya corona virus, dengan terjadinya peningkatan penyebaran virus corona serontak pemerintah India bergegas menyalahkan Muslim India atas hal tersebut. Kemudian, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan India untuk menhentikan rasisme terhadap Muslim. Hal ini dikatakan rasisme karena pemerintah India memandang adanya perbedaan perlakuan terhadap oarang lain yang dianggap berbeda terutama terhadap Muslim. Ini adalah salah satu contoh rasisme yang terjadi di dunia khususnya. (Aries Setiawan, 2020)

 Jika menilik pada kehidupan saat ini sifat rasisme sangat mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak bentuk rasisme yang terjadi terutama dikalangan masyarakat. Seseorang menjadi rasis bisa dipengaruhi oleh karakter sejak lahir, dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, atau disebabkan oleh pengaruh pergaulan sosial, maupun politik. Mereka bersikap seolah-olah saling membedakan antara satu sama lain, beranggapan bahwa stara sosial itu sangat penting. Mereka men-doktrin diri mereka sendiri untuk bersikap rasis terhadap orang lain, hal itu dilakukan agar terpenuhinya rasa kelebihannya. Sebenarnya hal itu tidaklah baik, karena mereka telah berusaha men-judge diri beserta karakter mereka untuk melakukan hal demikian. Dan tentunya akan sangat bepengaruh terhadap pola pikir mereka.

Rasisme tersebut dijadikan sebagai tolok ukur mereka dalam bertindak, apakah hal tersebut terjadi melalui lelucon, komentar, atau intimidasi. Banyak kita lihat di media sosial saat ini muncul komentar-komentar yang tidak relevan yang dapat menimbulkan suatu problematika di dalam kehidupan seseorang, seperti ujar kebencian, saling mengomentari sisi buruk orang lain, dan bahkan banyak hal yang dapat memicu munculkan rasisme tersebut. Tidak berhenti di situ saja, sebagian masyarakat juga menjadikan sifat rasis ini sebagai pembanding di dalam pergaulan, di mana mereka sebagai superior dan dengan mudahnya menindas orang-orang yang dianggap berada dibawahnya atau melecehkan seseorang dengan cara yang tidak sewajarnya. Sebagai contoh: timbulnya sifat saling ejek-mengejek antara sesama, dengan alasan orang tersebut memiliki perbedaan di segi fisiknya, apakah seseorang tersebut memiliki kulit hitam, putih, atau memiliki tubuh yang tidak seperti orang biasanya.

Berangkat dari rasis tadi, hal itu akan menimbulkan rasa insecure terhadap seseorang yang dijadikan sebagai bahan ejekan. Mereka akan menjadi orang yang hilang kepercayaan terhadap dirinya, sehingga mereka merasa tidak mampu untuk meng-improve segala kelebihan yang dimiliki. Ujung-ujungnya akan menjadikan seseorang menjadi lumpuh di sisi semangat serta kepercayaannya, hal ini bisa terjadi akibat pengaruh rasisme. Kita semua tahu seseorang yang merasa insecure mereke lebih dominan kepada kekurangan mereka, dan selalu mendengarkan apa yang orang lain katakan, sehingga dia beranggapan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi orang yang dipandang. Sungguh sangat besar bukan pengaruh dari rasisme tersebut.

Akibat dari sikap rasisme menjadikan seseorang lupa akan anugrah Tuhan yang tentunya sudah begitu sangat sempurna, salah satunya bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan perbedaan yang begitu sangat indah. Sebagaimana yang tercantum dalam Q.S Al-Hujurat ayat: 13 “wahai manusia, sesungguhnya aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah sendiri telah memberikan kelebihan-kelebihan kepada hambanya, karena sesunguhnya perbedaan itu sangat indah, seperti warna pelangi yang sangat indah dengan keanekaragamannya. Maka hargailah perbedaan yang dimiliki orang lain.

Di dalam Q.S At-tin ayat: 3 juga dijelaskan bahwa “sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”, nah maka dari itu tidak perlu kita bersikap rasisme kepada orang lain, karena di sisi kekurangan seseorang di dalamnya juga terdapat kelebihan yang belum tentu orang lain juga memilikinya, telah jelas bahwa rasisme itu mengandung sisi negatif yang harus kita jauhi. Maka untuk menjaga ketentaraman sesama manusia, marilah sama-sama bersikap selektif jangan rasis. Menegakkan keadilan antara sesama masyarakat, sehingga terciptanya kehidupan yang aman, damai, dan tentram. Jangan kita menuntut fisik tetapi lebih fokus ke karakter serta hatinya, karena hati menjadi tolok ukur utama dalam bertindak. Jangan sampai kita menjadi seseorang yang dinilai rasis karena hal demikian. Tetaplah menjadi pribadi yang tangguh dan jangan menjadi seseorang yang menrendahkan.

Baca juga

Tentang Arya Pratama

Harap cek kembali

Foto Ervin Hasibuan

Sebagai Politisi Lawas, Akhyar Nasution Bukan Lawan yang Gampang

Oleh: Ervin Hasibuan Suaraindo.com – Akhyar Nasution bukan lawan yang gampang bagi Bobby Nasution. Akhyar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *